Perhatikan Domba-Ku dan Firman-Ku

Suatu hari pemuda berpapasan dengan seorang gembala kambing. Terjadilah percakapan seperti ini.
  
Pemuda: Pak, boleh nanya nih? 
Gembala: Boleh 
Pemuda: Kambing-kambing Bapak sehat sekali. Bapak kasih makan apa? 
Gembala: Yang mana dulu nih? Yang hitam atau yang putih? 
Pemuda: Mmm…yang hitam dulu deh… 

Berdoalah Tidak Sekedar Untuk Kemenangan

Suatu ketika, ada seorang anak sedang mengikuti sebuah lomba balap mobil mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab lomba ini adalah babak final. Hanya tersisa empat orang saja sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimilikinya. Semuanya buatan sendiri, karena memang begitulah peraturannya.
 
Ada seorang anak bernama Marko. Mobilnya tak sangat istimewa. Dibanding semua lawannya, mobil Markolah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang mobil itu penampilannya tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip di atasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Marko bangga dengan mobil mainannya itu sebab mobil itu buatan tangannya sendiri.
 

Apakah Anda Menyukai Tebu atau Gulanya?

Habis manis, sepah dibuang,” betapa pandainya para sesepuh kita membuat perumpamaan. Orang-orang yang dinilai sudah tidak berguna lagi disisihkan begitu saja. Kadang kita marah, kalau diperlakukan seperti sepah. Padahal, kita juga akan membuang sepah itu jika sudah tidak ada lagi rasa manisnya. Ini soal siapa pelaku dan siapa korbannya saja. Kita tidak suka jadi korban, itu saja. Bukankah kita juga tidak ingin menyimpan sepah dirumah? Wajar jika sepah itu dibuang. Yang tidak wajar adalah yang belum menjadi sepah sudah dibuang. Juga tidak wajar jika kita sudah menjadi sepah, tetapi menuntut orang lain untuk terus menerus menikmati rasa manis yang sudah tidak kita miliki lagi. Ngomong-ngomong, ‘sepah’ itu apa sih?

Kisah Sebuah Arloji

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Selamat datang di blog Hati Gembira Ito'e Obat, Terima kasih telah berkunjung di blog Personal saya.. Semoga anda senang!! GBU all.